Jumat, 25 Januari 2008

Banyuwangi/ 25-01-2008.
Era Baru Komunikasi (tarif) Murah telah datang

……”mbak mau bayar tagihan kartu handphone saya, nmrnya 081650xxxx?” .”O,ya pak akan saya cek dulu tagihannya berapa…Setelah beberapa lama si kasir kembali bilang. “Pak, tagihan bulan ini sebesar 16 juta. “Oke mbak ini uangnya “ jawab si customer sambil menyerahkan uang ke kasir. Setelah menerima kuitansi pulanglah customer itu dan si kasir asyik menghitung kembali pembayaran uang. Itulah sekelumit cerita flash back suasana di ruang pelayanan di tahun 1996 di salah satu ruang pelayanan operator seluler pertama yang beroperasi di Surabaya. Rekan saya yang kebetulan kerja disitu menurutkan, kondisi seperti itu sering terjadi dan sudah jamak terjadi mengingat saat itu hanya ada satu operator GSM. Sehingga pelanggan tidak punya pilihan pindah ke operator lain sedangkan teknologi yang lainnya jauh ketinggalan dibandingkan kecanggihan operator baru ini.
Sebenarnya ada satu teknologi yang lainnya yang bernama AMPS (Advanced Mobile Phone System) , menggunakan teknologi analog yang dibawa oleh PT Metrosel. Teknologi komunikasi generasi pertama tanpa kabel ini bekerja pada band frekuensi 800 Mhz dan menggunakan metode akses FDMA (Frequency Division Multiple Access). Dalam FDMA,user dibedakan berdasarkan frekuensi yang digunakan, dimana setiap user menggunakan kanal sebesar 30 KHz. Ini berarti tidak boleh ada dua user yang menggunakan kanal yang sama baik dalam satu sel maupun sel tetangganya. Oleh karena itu AMPS akan membutuhkan alokasi frekuensi yang besar. Kelemahan utama dari teknologi ini adalah kualitas suara yang jelek walaupun berada di jangkauan sinyal. Bagaimana dengan HP? Sebenarnya Handphone saat itu sudah ada, cuma karena harganya selangit berkisar antara 2 -3 jutaan dan bentuknya masih besar banget dan berdaya besar pula, maka sangat jarang orang yang mempunyainya.
Kondisi sekarang ? hhmm..seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi yang setiap saat melahirkan inovasi baru, kondisi yang terjadi di atas semakin jarang ditemui. Sistem persaingan yang demikian ketat antar operator yang semakin hari jumlahnya bertambah di 3 tahun terakhir ini , baik GSM maupun CDMA membawa konsekuensi logis ke persaingan sengit di kualitas layanan baik sinyal maupun tarif. Teknologi yang datang akhir-akhir ini menawarkan biaya rendah dan atraktif, sementara di saat yang sama investasi untuk perangkat yang masih bagus digunakan belum impas. Di sisi lain masyarakat tak ambil pusing dengan masalah yang dihadapi operator, apalagi jika operator gagal menghadang kartu perdana model habis pake buang alias hangus atau churn. Kesetiaan pelanggan baru menjadi barang agak sulit ditemui bagi operator telekomunikasi, apalagi yang datang belakangan. Istilahnya mereka ini adalah type pelanggan kutu loncat. Setiap ada operator baru dengan gampangnya si customer membuang kartu lama dan bertukar ke kartu baru dari operator yang dirasa menguntungkan. Masih mending kalau dijadikan second card atau kartu alternative kedua. Tapi ini nggak sama sekali, begitu pulsa habis langsung tidak terpakai dan dibiarkan hangus dan melewati masa tenggang. Pertanyaannya sekarang sampai kapan masyarakat kita akan terus melihat hal ini dan menikmatinya?
Dalam teori telekomunikasi di Indonesia ada 3 hal yang membuat operator bisa memenangkan persaingan dan bisa tetap eksis. Yakni kualitas jaringan, pentarifan dan terakhir adalah layanan dan fitur purna jual yang komplet dari produk operator. Jaringan yang dibangun lewat pembangunan BTS (Base Tranceiver Station) atau lebih popoler tower seluler yang bertinggian sekitar 40-70 m ini menjadi syarat mutlak kehadiran operator telekomunikasi akan akrab dan dekat dengan pelanggan. Pembaca mungkin tahu 3- 4 tahun yang lalu disaat HP belum begitu membumi seperti sekarang, tower BTS seluler yang hadir di bumi Banyuwangi pun juga tidak banyak, dibawah seratus biji. Tapi lihatlah sekarang, hampir tidak ada tempat atau daerah atau kampung yang tidak ada tower, itupun masih banyak proyek pembangunan yang terus berjalan. Kok banyak sekali ya? Jawabannya karena selain internal dari perusahaan itu sendiri yang punya target penambahan pelanggan di daerah-daerah baru dan BTS yang merupakan penghasil sinyal yang notabenenya adalah basic need pengguna HP dalam memilih operator, juga belum ada regulasi dari pemerintah yang mengatur adanya tower bersama. Bisa dibayangkan 2 tahun kedepan, kalau semua operator sudah mengcover seluruh wilayah Banyuwangi, setiap 5 kilometer ada 3-4 tower yang berdiri. Sekarang ini kondisi di Banyuwangi sudah mengarah kesana, tengoklah samping kanan kiri jalan, ketika pembaca jalan-jalan dari Banyuwangi ke Genteng dilanjutkan ke Kalibaru atau daerah Pesanggaran atau Muncar atau lain kabupaten semisal Jember, pasti akan terlihat tower- tower baru dengan radius berdekatan dan rapat.
Alasan kedua adalah pentarifan dari berbagai produk operator tersebut. Karena bersaing di ceruk dan segmen pelanggan yang tidak berbeda jauh dari waktu ke waktu maka terjadi lah kanibalisme antar produk antar opetaror bahkan bisa jadi antar produk dalam satu operator. Padahal operator dituntut untuk mendapatkan jumlah pelanggan dan pendapatan dengan target tertentu yang nantinya dipertanggungjawabkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (rata-rata perusahaan ini adalah go public) sehingga ,mengakibatkan banyak sekali trik dan gimmick (penyamaran bahasa marketing) mengenai tariff. Bahasa yang dikedepankan sudah mengacu berbagai kata-kata atau kalimat yang unik, beda, kadang-kadang nakal bahkan cenderung provokatif menyerang operator lainnya. Ada yang namanya freetalk, talktime, per detik, bicara/ngomong segitu dapat segitu, kirim sms segitu dapet segitu, tarif berlima, tanpa bayar ekstra, tarif irit malam dan sebagainya. Ada yang beli voucher berhadiah sms dengan nominal tertentu atau bonus berlipat rupiahnya. Ada juga kemarin saya lihat salah satu operator GSM mengeluarkan tarif yang luar biasa murah dengan 100 /menit. Lah kalo begitu, masa apakah terjadinya persamaan tarif antara GSM dan CDMA sudah mendekati garis equilibrium atau garis keseimbangan? Ternyata sudah datang!. Tidak ada gap yang jauh tentang pentarifan dari dua teknologi yang berbeda ini. Tidak menunggu lama layanan tarif hemat dan murah ini saya yakin akan diikuti oleh operator yang lainnya. Begitu terus pola persaingannya. Sampai nanti tarif tersebut tidak bisa diturunkan lagi karena pertimbangan logis perusahaan yakni prinsip laba rugi. Sebenarnya penurunan tarif ini merupakan pilihan terakhir bagi operator seluler/CDMA karena penurunan tarif berarti akan menurunkan pula ARPU (Average Revenue Per User) terutama jika operator tetap mengejar jumlah pelanggan sehingga ARPU rata-rata mereka yang sekarang berkisar antara Rp 60.000-Rp 70.000 akan turun ke angka dibawah Rp 50.000. Operator akan menghitung ketika penurunan tarif itu memotong sebagian pendapatannya, mereka akan mencari ganti lewat penambahan pelanggan baru. Pelanggan-pelanggan usia dini misal anak Sekolah Dasar atau usia renta yang tidak produktif pun akan mereka sasar. Tidak ada lagi orang Banyuwangi yang tidak punya HP. Tarif murah , Handset murah, Outlet HP menjamur, dan didukung iklan dan promosi yang keren, tajir dan gencar dari berbagai operator yang banyak ditemui, dilihat dan didengar mulai bangun tidur sampai tidur lagi melalui TV, radio, koran, spanduk, umbul-umbul, baliho, billboard menjadi pemicu cepatnya penetrasi alat komunikasi nirkabel ini. Nantinya Customer di Banyuwangi juga tidak perlu bingung- ngung membeli 2 HP CDMA plus GSM dengan nomor berbeda. Cukup dengan satu nomor dan satu handset. Tidak merepotkan, tidak ribet dan tidak takut hilang bagi yang pelupa.
Nah, Faktor ketiga operator bisa menang dan survive akan terjadi jika 2 hal diatas juga terpenuhi. Operator akan berlomba-lomba mengeluarkan fitur, tarif, dan layanan antara satu dengan yang lain hampir tidak ada bedanya, tapi hanya operator yang jeli dan bisa memberi layanan yang lebih dalam mendekati pelanggan untuk memberi solusi komunikasi yang murah dan pas dengan kebutuhan maka operator itulah yang akan memenangkan persaingan. Siapa yang diuntungkan ? Lagi-lagi semua elemen masyarakat Banyuwangi yang butuh komunikasi.
.

Tidak ada komentar: